Mujizat dan Kemampuan Dalam Membangkitkan Orang Mati

Dalam teologi Protestan, khususnya tradisi Reformed (Calvinis), topik mengenai mujizat dan kemampuan supranatural (seperti membangkitkan orang mati) dipandang dengan sangat hati-hati dan memiliki struktur teologis yang khas.

 

1. Fondasi Utama: Kedaulatan Mutlak Allah (Sovereignty of God)

Hal pertama yang harus dipahami dalam pemikiran Calvinis adalah bahwa Allah itu Berdaulat Mutlak. Artinya, hidup dan mati berada 100% di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia, bukan di tangan pendeta, dan bukan pula bergantung pada seberapa keras seseorang beriman.

Dalam narasi Calvinis, mujizat didefinisikan sebagai campur tangan langsung Allah yang melampaui hukum alam. Karena Allah yang menciptakan alam semesta, Ia berhak mengintervensinya kapan saja. Jadi, apakah Allah bisa membangkitkan orang mati hari ini? Jawabannya: Ya, Allah bisa. Tidak ada yang mustahil bagi Dia.

Namun, pertanyaannya kemudian berubah: Apakah seorang Pendeta memiliki “kuasa” atau “karunia” untuk melakukan hal itu sesuka hatinya? Di sinilah teologi Calvinis memberikan jawaban yang berbeda dari beberapa aliran Kristen lainnya.

2. Doktrin Cessationism (Penghentian Karunia Tanda)

Untuk memahami mengapa kita jarang (atau tidak pernah) melihat pendeta Reformed membangkitkan orang mati, kita perlu mengenal istilah teknis bernama Cessationism (Sesasionisme).

Narasi Sejarahnya: Pada zaman Alkitab (khususnya Perjanjian Baru), para Rasul seperti Petrus dan Paulus memang melakukan mujizat besar, termasuk membangkitkan orang mati (contoh: Dorkas di Kisah Para Rasul 9:40). Mengapa?

Menurut pandangan Calvinis, mujizat-mujizat dahsyat ini adalah “Tanda Kerasulan” (Sign Gifts). Tujuannya bukan sekadar untuk pamer kekuatan, melainkan sebagai stempel otentikasi dari Tuhan untuk membuktikan bahwa ajaran para Rasul itu benar-benar berasal dari Surga. Saat itu, Alkitab belum lengkap ditulis. Orang butuh bukti: “Siapa orang ini? Kenapa saya harus percaya injil yang dia bawa?” Maka, Tuhan memberikan mujizat sebagai validasi.

Kondisi Sekarang: Setelah Alkitab selesai ditulis (Kanon Alkitab tertutup sempurna), Calvinis percaya bahwa fungsi “Tanda Kerasulan” itu sudah selesai. Kita tidak lagi membutuhkan mujizat baru untuk membuktikan kebenaran Injil, karena Injil itu sendiri sudah lengkap dan sempurna di dalam Alkitab (Sola Scriptura).

Oleh karena itu, doktrin Calvinis mengajarkan bahwa karunia untuk melakukan mujizat (sebagai kemampuan yang melekat pada seseorang) telah berhenti (ceased) bersamaan dengan meninggalnya rasul terakhir.

3. Posisi Pendeta dalam Membangkitkan Orang Mati

Berdasarkan doktrin di atas, berikut adalah posisi teologis mengenai kemampuan seorang Pendeta:

  • Pendeta Bukan Dukun Sakti: Dalam teologi Reformed, pendeta adalah pelayan Firman (Minister of the Word). Ia tidak memiliki “tenaga dalam” atau “urapan sakti” yang bisa disalurkan untuk menghidupkan mayat. Menganggap pendeta memiliki kuasa ontologis (kuasa dalam dirinya sendiri) untuk mengatur nyawa adalah bentuk penyembahan berhala (idolatry) karena merebut kemuliaan yang hanya milik Allah.

  • Doa vs. Mantra: Jika ada situasi di mana seorang pendeta berdoa bagi orang mati, itu adalah bentuk permohonan (petisi) kepada Allah yang Berdaulat, bukan sebuah perintah (command).

    • Kharismatik/Pentakostal (umumnya): Cenderung berani “memerintahkan” maut untuk pergi dalam nama Yesus.

    • Calvinis: Akan berdoa, “Tuhan, Engkaulah pemilik kehidupan. Jika Engkau berkehendak mengembalikan nyawa ini demi kemuliaan-Mu, jadilah kehendak-Mu. Namun jika waktunya telah tiba, berikanlah kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.”

  • Sikap Skeptis yang Sehat: John Calvin sendiri sangat kritis terhadap klaim-klaim mujizat pada zamannya. Ia mengajarkan bahwa mencari-cari mujizat spektakuler justru bisa mengalihkan umat dari “mujizat yang lebih besar,” yaitu kebenaran Firman Tuhan itu sendiri.

4. Mujizat Terbesar: Regeneration (Kelahiran Baru)

Jika Anda bertanya kepada seorang teolog Calvinis, “Bisakah pendeta membangkitkan orang mati?”, mereka mungkin akan menjawab dengan sebuah paradoks yang indah:

“Setiap minggu, melalui khotbah yang setia pada Injil, Tuhan memakai pendeta untuk membangkitkan orang mati.”

Maksudnya bukan mayat fisik, melainkan orang yang mati secara rohani. Dalam doktrin Total Depravity (Kerusakan Total), manusia dianggap “mati dalam dosa”. Manusia berdosa tidak bisa merespons Tuhan, sama seperti mayat tidak bisa merespons panggilan.

Ketika seorang pendeta memberitakan Injil, dan Roh Kudus bekerja, terjadi mujizat Regeneration (Lahir Baru). Orang yang tadinya mati rohani, pembenci Tuhan, tiba-tiba menjadi hidup, bertobat, dan mengasihi Allah. Bagi Calvinis, ini adalah mujizat yang jauh lebih besar daripada sekadar menghidupkan mayat fisik.

  • Lazarus dibangkitkan secara fisik, tapi akhirnya dia mati lagi.

  • Orang berdosa yang dibangkitkan secara rohani akan hidup kekal selamanya.

Kesimpulan Sederhana

Dalam perspektif Doktrin Protestantisme (Calvinist):

  1. Kemampuan Pendeta: Pendeta tidak memiliki kemampuan/kesaktian personal untuk membangkitkan orang mati fisik. Itu bukan tugas mereka, dan karunia kerasulan tersebut sudah berhenti (Cessationism).

  2. Kuasa Allah: Allah tetap sanggup membangkitkan orang mati jika Ia mau, namun itu adalah hak prerogatif-Nya yang berdaulat, bukan sesuatu yang bisa dipicu oleh manusia.

  3. Fokus Iman: Umat diajarkan untuk tidak mengejar sensasi mujizat fisik, melainkan mengejar pemahaman akan Firman Tuhan dan mengalami mujizat keselamatan jiwa (kelahiran baru) yang bersifat kekal.

Facebook
WhatsApp
Telegram
Twitter
Scroll to Top