Bebas dari Hukum Taurat, Masih Perlu Persepuluhan?
Dalam tradisi Protestan Calvinis (Reformed), pandangan mengenai persepuluhan dan persembahan sangat berbeda dengan pandangan “Teologi Kemakmuran” (memberi untuk mendapat berkat) maupun pandangan “Hyper-Grace” (tidak perlu memberi karena sudah bebas dari hukum).
Berikut adalah analisis mendalam mengenai bagaimana Doktrin Calvinis mendamaikan konsep Persepuluhan dengan Era Kasih Karunia.
1. Fondasi Utama: Keselamatan Bukan Karena Perbuatan (Sola Gratia)
Hal pertama yang harus ditegaskan dalam teologi Calvinis adalah bahwa persepuluhan tidak menyelamatkan.
- Bukan Transaksi: Kita tidak memberikan persepuluhan untuk “menyogok” Tuhan agar memberkati kita, atau untuk melunasi dosa. Keselamatan adalah murni anugerah (Grace) melalui iman.
- Posisi Hukum: Kristus telah menggenapi tuntutan hukum Taurat. Oleh karena itu, orang Kristen tidak lagi berada di bawah “kutuk” hukum Taurat jika gagal melakukan detail ritualnya.
Namun, Calvinisme menolak gagasan bahwa “bebas dari hukum” berarti kita boleh hidup semaunya atau menjadi pelit kepada Tuhan.
2. Membedah Argumen “Era Kasih Karunia”
Argumen yang sering Anda dengar adalah: “Persepuluhan adalah Hukum Musa (Perjanjian Lama). Kita sekarang di Perjanjian Baru (Era Kasih Karunia), jadi persepuluhan sudah tidak berlaku/relevan.”
Perspektif Calvinis menjawab argumen ini dengan logika teologis berikut:
A. Prinsip “Lebih Besar, Bukan Lebih Kecil”
Jika di bawah Hukum Taurat (yang kaku dan penuh aturan) umat Tuhan dituntut memberikan 10% sebagai standar minimal, apakah masuk akal jika di bawah Kasih Karunia (yang penuh kelimpahan pengorbanan Kristus), kita memberi kurang dari itu?
- Logika Kasih Karunia: Kasih karunia seharusnya menghasilkan respons hati yang lebih murah hati, bukan lebih perhitungan. Jika orang Yahudi di PL memberi 10% karena kewajiban, orang Kristen di PB memberi karena cinta kasih yang meluap.
- Standar Baru: Dalam Perjanjian Baru, standarnya bukan lagi angka (10%), melainkan seluruh hidup (Roma 12:1). Persepuluhan sering dilihat oleh kaum Reformed sebagai “tolok ukur dasar” atau latihan disiplin awal, bukan batas maksimal.
B. Persepuluhan Sebelum Hukum Taurat
Kaum Calvinis sering merujuk pada fakta sejarah Alkitab bahwa Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek (Kejadian 14) jauh sebelum Hukum Taurat diberikan kepada Musa.
- Ini menunjukkan bahwa persepuluhan adalah prinsip moral dan ibadah universal (pengakuan bahwa Tuhan adalah pemilik segalanya), bukan sekadar aturan ritual Yahudi yang kadaluwarsa.
3. Tiga Kegunaan Hukum dalam Calvinisme
John Calvin mengajarkan bahwa Hukum Tuhan memiliki tiga kegunaan. Ini relevan untuk memahami posisi persepuluhan:
- Cermin Dosa: Menunjukkan bahwa kita tidak mampu sempurna (butuh Juruselamat).
- Pengekang Sipil: Menjaga ketertiban masyarakat.
- Pedoman Hidup (The Third Use of the Law): Ini yang penting. Bagi orang yang sudah diselamatkan, hukum/prinsip Tuhan menjadi panduan bagaimana cara hidup yang menyenangkan Allah.
Dalam konteks ini, persepuluhan dilihat sebagai pedoman bijaksana tentang bagaimana mengelola harta untuk kemuliaan Tuhan dan mendukung pekerjaan Gereja, meskipun bukan lagi syarat keselamatan.
4. Konsep Penatalayanan (Stewardship)
Inti ajaran Calvinis tentang harta adalah Kedaulatan Allah.
- Allah Pemilik Mutlak: Segala yang kita miliki (100%) adalah milik Allah. Kita hanyalah manajer (penatalayan).
- Persembahan sebagai Pengakuan: Saat kita mengembalikan persepuluhan dan memberikan persembahan, kita sedang membuat pernyataan iman: “Tuhan, Engkau pemilik semuanya. Ini adalah tanda hormat dan syukurku.”
- Dukungan Pelayanan (Means of Grace): Calvinisme sangat menekankan pentingnya Gereja sebagai institusi yang memberitakan Firman. Persembahan dan persepuluhan adalah cara Tuhan yang tertib untuk membiayai pemberitaan Injil, pemeliharaan gedung gereja, dan diakonia (bantuan orang miskin).
5. Kesimpulan: Relevansi di Era Modern
Jadi, apakah persepuluhan masih relevan di Era Kasih Karunia menurut Calvinis?
Jawabannya: Ya, tetapi motivasinya berubah total.
Aspek | Di Bawah Hukum Taurat (Legalistik) | Di Bawah Kasih Karunia (Calvinis/Injili) |
Motivasi | Rasa takut dihukum / Kewajiban. | Rasa syukur yang mendalam (Gratitude). |
Sifat | Pajak rohani yang harus lunas. | Respons penyembahan yang sukarela. |
Tujuan | Supaya diberkati. | Karena sudah diberkati secara rohani. |
Jumlah | Persis 10% (hurufiah). | Bisa 10% sebagai patokan, bisa lebih (proporsional). |
Rangkuman Sederhana:
Doktrin Calvinis mengajarkan bahwa Kasih Karunia memerdekakan hati kita dari cengkeraman cinta uang. Karena kita sudah menerima harta terbesar yaitu Kristus, maka memberikan sebagian harta materi (baik dalam bentuk persepuluhan atau persembahan syukur) adalah respons yang wajar, logis, dan penuh sukacita.
Orang yang benar-benar memahami Kasih Karunia tidak akan bertanya, “Berapa sedikit yang boleh saya beri?” tetapi akan bertanya, “Berapa banyak yang bisa saya beri untuk pekerjaan Tuhan?”

